Artikel mengenai Trend Dalam Pengembangan Kebijakan, Trend Dalam Pembangunan
Sosial Ekonomi, Kesehatan dan Lingkungan, Sumber-Sumber Kesehatan, Pengembangan
Sistem Kesehatan, Pelayanan Kesehatan, Trend Dalam Status Kesehatan, Pandangan
ke Depan. Disiapkan pada tanggal 6 Juni 2002.
BAGIAN 1: TREND DALAM PENGEMBANGAN KEBIJAKAN
BAGIAN 2: TREND DALAM PEMBANGUNAN SOSIAL EKONOMI
2.1 Trend ekonomi
2.2 Trend demografi
2.3 Trend sosial
2.4 Suplai makanan dan status gizi
2.5 Gaya hidup
BAGIAN 3: KESEHATAN DAN LINGKUNGAN
3.1 Perlindungan umum terhadap lingkungan
3.2 Suplai makanan dan sanitasi lingkungan
BAGIAN 4: SUMBER-SUMBER KESEHATAN
4.1 Sumber daya manusia untuk kesehatan
4.2 Sumber finansial untuk kesehatan
4.3 Prasarana Fisik
4.4 Obat esensial dan suplai lainnya
4.5 Kemitran Internasional untuk kesehatan
BAGIAN 5: PEMBANGUNAN KESEHATAN
5.1 Kebijakan dan stategi kesehatan
5.2 Kerjasama intra-sektor
5.3 Organisasi dari pembangunan kesehatan
5.4 Proses pengaturan
5.5 Sistem informasi kesehatan
5.6 Aksi masyarakat
5.7 Kewaspadaan terhadap keadaan darurat
5.8 Riset kesehatan dan teknologi
BAGIAN 6: PELAYANAN KESEHATAN
6.1 Pendidikan dan Upaya kesehatan
6.2 Kesehatan ibu dan anak/ keluarga berencana
6.3 Imunisasi
6.4 Pencegahan dan pengawasan penyakit endemik lokal
6.5 Perawatan terhadap penyakit umum dan kecelakaan
BAGIAN 7: TREND DALAM STATUS KESEHATAN
7.1 Tingkat harapan hidup
7.2 Mortalitas
7.3 Morbiditas
7.4 Disabilitas
BAGIAN 8: PANDANGAN KE DEPAN
8.1 Penilaian keseluruhan dan masalah strategis
8.2 Visi di masa depan
8.3 Strategi yang diusulkan
BAGIAN 1: TREND DALAM PENGEMBANGAN KEBIJAKAN
Pemerintah Indonesia menekankan bahwa pengembangan SDM adalah bagian
yang penting bagi pembangunan nasional. Prioritas juga diberikan untuk
meningkatkan kesehatan dan pendidikan. Dalam upayanya untuk meningkatkan
pembangunan pelayanan kesehatan, pemerintah mengenali peranan sektor swasta,
terutama dalam menyediakan pelayanan kesehatan di tingkat sekunder dan
tersier, yang dapat mengurangi investasi pemerintah yang besar dalam sarana
kesehatan yang mahal. Meningkatnya perannya sektor swasta dalam kesehatan
akan menimbulkan pertanyaan yang berhubungan dengan akses dan ekuitas,
walaupun sarana swasta diharuskan untuk menyediakan subsidi pelayanan
kepada fakir miskin. Situasi ini akan menjamin pengenalan akan mekanisme
pengaturan yang efektif. Perubahan lembagaonal yang besar juga akan
dibutuhkan dalam DepKes.
Kebijakan angka pertumbuhan nol pada pegawai untuk mengoptimalkan efisiensi
telah diadopsi oleh sektor publik. Ini akan memberikan efek negatif pada
pelayanan kesehatan karena akan membatasi kemampuan mereka dalam membuka
sarana baru dan menyediakan pelayanan yang lebih banyak. Pemerintah terus
berusaha untuk meningkatkan pengaturan desentralisasi, terutama di tingkat
daerah dan kota praja, yang membutuhkan koordinasi yang dekat dengan pusat
apabila pelaksanaan rencana HFA diberlakukan.
Pembangunan kesehatan di Indonesia telah memperbaiki status kesehatan
secara signifikan. Namun, masalah dan batasan yang ada mempengaruhi pembangunan
yang lebih lanjut menuju Indonesia Sehat 2010.
BAGIAN 2: Trend Dalam PEMBANGUNAN Sosial Ekonomi

2.1 Trend ekonomi
Tingkat pertumbuhan tahunan dari Pendapatan Kotor Nasional yang relatif
konstan dari tahun 1992-1995 adalah 7,25%. Pendapatan Kotor Nasional per
kapita telah mengalami kenaikan dari US $661 menjadi US $978 dalam kurun
waktu yang sama. Persentasi fakir miskin, secara jumlah dan dalam daerah
pedesaan telah menunjukkan penurunan yang tipis dari 11,7% menjadi 12,6%.
Minyak dan sumber-sumber alam lainnya tetap menjadi kontibutor utama dalam
pertumbuhan. Namun, beberapa sektor lainnya, terutama pertanian, industri
rumah tangga, dan kepariwisataan telah tumbuh secara signifikan. Kemiskinan
masih menjadi masalah yang besar. Ketidakmerataan pelayanan kesehatan
di daerah adalah pertimbangan yang penting, terutama kesehatan ibu (maternal)
yang masih menjadi masalah utama di daerah pedesaan.

2.2 Trend Demografi
Sensus penduduk yang terakhir di tahun 2000 memperkirakan jumlah penduduk
lebih dari 206 juta. Angka pertumbuhan penduduk per tahun adalah 1,49
(1990-2000). Jumlah tingkat kesuburan diperkirakan 2,9 (1991-1994) dan
2,8 (1994-1997). Masalah yang berhubungan dengan kesehatan termasuk peningkatan
trend orang yang berusia lebih tua (usia 65 dan lebih), yaitu dari 4,23%
di tahun 1995 dan akan menjadi 5,37% di tahun 2005. Ini akan menuntut
pelayan kesehatan yang lebih disesuaikan; meningkatnya migrasi dari kota
(25-37% dari penduduk sekarang tinggal di daerah perkotaan) dengan perkiraan
bahwa pada tahun 2020 lebih dari 50% dari penduduk akan tinggal di kota;
dan para pekerja yang akan pulang pergi dari kota untuk bekerja. Kebutuhan
dari meningkatnya jumlah orang yang berusia lebih tua akan menambahkan
beban ganda pada penyakit, dengan umumnya penyakit yang menular di satu
sisi, dan meningkatnya prevalansi penyakit yang tidak menular di sisi
lainnya.

2.3 Trend Sosial
Tingkat buta huruf dari laki-laki dan wanita dewasa telah mengalami peningkatan
dari 93,1% menjadi 85,5% di tahun 2001. Jumlah tenaga kerja wanita sedang
mengalami peningkatan. Pemberantasan buta huruf dan angka dilakukan melalui
pendidikan kelompok secara tidak formal, walaupun adanya batasan dalam
mencapai ke fakir miskin dan mereka yang tinggal di daerah terpencil.

2.4 Suplai makanan dan status gizi.
Indikator gizi menunjukkan adanya kemajuan secara keseluruhan antara
tahun 1986-1991 dan 1992-1997. Di tahun 1992-1997 berat kelahiran yang
rendah terjadi sebanyak 7,7%. Proporsi dari anak yang berusia dibawah
lima tahun dengan berat badan yang sesuai dengan usianya yang berada di
bawah 2 s.d. dari median (WFA/NCHS) adalah 26,4% (1999), jumlah tingkat
gondok pada anak-anak usia sekolah adalah 30,0% di tahun 1980-1982 dan
menurun menjadi 9,8% di tahun 1996-1998, dengan perbedaan prevalansi antara
propinsi, proporsi wanita hamil yang mengalami anemia adalah 51,0% dan
anak-anak yang berusia dibawah lima tahun adalah 40,5% (1995). Pengurangan
yang besar terjadi pada prevalansi dari kekurangan vitamin A. Survey xerophtalmia
nasional (1992) menunjukkan bahwa prevalansi nasional adalah 0,33% yang
dimana berada dibawah standar yang diterima. Namun demikian, ada tiga
propinsi yang masih memiliki masalah dengan kekurangan vitamin A. Hambatan
yang utama adalah kurangnya program pelayanan suplemen (zat besi, vitamin
A dan yodium) yang disebabkan oleh faktor geografis dan sosial budaya,
suplemen yang dibatasi masuk ke dalam wilayah endemik, and kurangnya pembiayaan.
Faktor umum lainnya termasuk rendahnya kesadaran masyarakat, kurangnya
partisipasi masyarakat dalam kegiatan mengenai gizi, dan bantuan yang
biasa saja yang berasal dari sektor lain dalam pelaksanaan program gizi
yang terpadu.

2.5 Gaya hidup
Masalah kesehatan yang berhubungan dengan perubahan gaya hidup telah
diasosiasikan dengan perubahan kebiasaan makan, contohnya: remaja dan
makanan cepat saji, dan merokok, terutama dengan meningkatnya jumlah perokok
usia muda. Proporsi dari jumlah penduduk yang berusia 15 tahun keatas
yang merokok secara regular diperkirakan sebanyak 22,9% di tahun 1995
dan meningkat menjadi 27,7% di tahun 2001. Penyalahgunaan obat dan bahan
berbahaya, gaya hidup yang sedentari/ kurang aktif, dan kekerasan juga
menjadi masalah kesehatan. Hambatan yang utama adalah kurangnya bantuan
masyarakat dan komitmen nasional, terutama mengenai merokok.
BAGIAN 3: Kesehatan dan Lingkungan

3.1 Perlindungan umum terhadap lingkungan
Meningkatnya industrialisasi, emisi kendaran bermotor, pariwisata, dan
lain sebagainya menyebabkan degradasi lingkungan. Kualitas udara di daerah
perkotaan dan industrial jauh melebihi standar yang ditentukan. Air di
permukaan dan di dalam tanah di beberapa daerah tercemar oleh sisa air
industri yang tidak diolah. Masalah lingkungan yang besar telah menyebabkan
masalah kesehatan, termasuk sistem pernapasan, kulit dan penyakit perut.
Hambatan utamanya adalah kurangnya pekerja kesehatan yang terampil dan
alat-alat teknik, terbatasnya pembiayaan, dan kurangnya pelaksanaan UU
Lingkungan. Pembaharuan dari rencana HFA akan menekankan pada peningkatan
kesadaran masyarakat, menetapkan standar dan menyusun peraturan kode lingkungan,
menyediakan sarana laboratorium yang berhubungan dengan masalah lingkungan,
dan meningkatkan koordinasi dan tindakan intra-sektor.

3.2 Suplai makanan dan sanitasi lingkungan
Di tahun 1995 dilaporkan bahwa persediaan air bersih di daerah perkotaan
adalah 87,3% dan di daerah pedesaan adalah 57,4%, meningkat menjadi 90,6%
di daerah perkotaan dan 67,0% di daerah pedesaan. Ada bukti yang menunjukkan
bahwa standar bakteri di dalam air relatif rendah. Proporsi rumah tangga
yang memiliki sarana pembuangan adalah 71,1% di daerah perkotaan dan 44,0%
di daerah pedesaan di tahun 1995, dan meningkat menjadi 76,2% di daerah
perkotaan dan 50,3% di daerah pedesaan di tahun 2001. Pengaturan air bersih
adalah tanggung jawab dari beberapa departemen yang berbeda, dan diperlukan
peningkatan koordinasi apabila masalah kesehatan yang berbahaya ini berhubungan
dengan perkiraan jarak dari kakus ke air bersih yang perlu diselesaikan.
BAGIAN 4: SUMBER-SUMBER KESEHATAN

4.1 Sumber daya manusia untuk kesehatan
Rasio antara petugas kesehatan dan penduduk telah mengalami peningkatan
sejak tahun 1996, tetapi kemudian menurun sejak diberlakukannya kebijakan
pemerintah mengenai angka pertumbuhan nol pada pegawai negeri. Pekerja
kesehatan profesional sekarang diperkerjakan dengan dasar kontrak selama
jangka waktu tertentu. Keterbatasan sektor publik dalam memperkerjakan
pekerja kesehatan membuat para pekerja ini, terutama dokter-dokter pindah
ke sektor swasta. Di tahun 1994, dilaporkan banyaknya dokter per 10,000
penduduk adalah 1,63, bidan 2,62, perawat 5,0, apoteker 0,3, dan dokter
gigi 0,4. Hambatan utama dari SDM kesehatan, terutama di bagian staf paramedis,
adalah kurangnya instruktur/guru di bagian kesehatan yang bersangkutan.
Kualitas dari pelatihan juga didapatkan kurang. Untuk memperbaiki keadaan
ini, pusat pelatihan bagi guru dan instruktur, terutama bagi perawat,
telah dibangun di lima propinsi. Pusat untuk belajar dan mengevaluasi
segala macam pelatihan kesehatan telah didirikan, dan yang akan bertugas
untuk menilai dan menyusun kurikulum yang akan diterapkan di sekolah kedokteran.

4.2 Sumber finansial untuk kesehatan
Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan bertambah banyaknya masalah kesehatan
yang timbul dari transisi epidemiologi, permintaan untuk pelayanan kesehatan
umum yang bermutu tinggi telah meningkat, yang menyebabkan pentingnya
pengalokasian sumber dana kesehatan. Namun, kemampuan pemerintah dalam
penyediaan dana sangat terbatas. Oleh sebab itu, pengaturan keuangan menjadi
sangat penting disamping mencari sumber-sumber masyarakat untuk biaya
tambahan bagi pelayanan kesehatan. Mekanisme alternatif untuk membiayai
pelayanan kesehatan termasuk: rencana asuransi perawatan kesehatan masyarakat,
adanya biaya pemakaian (user-fee) untuk menunjang kegiatan operasional
di RS, dan privatisasi. Privatisasi dapat menjamin penyesuaian bagi kelompok
yang berpendapatan rendah dan peraturan dari pelayanan kesehatan di sektor
swasta. Jumlah total anggaran belanja kesehatan nasional sebagai bagian
dari Pendapatan Kotor Nasional turun dari 0,7% menjadi 0,6% antara tahun
1986-1995. Jumlah total anggaran belanja kesehatan pemerintah per kapita
di tahun 1995 adalah US $6,24.

4.3 Prasarana Fisik
Perbaikan yang signifikan dalam prasarana fisik kesehatan terjadi dari
tahun 1973-1993. Jumlah RS umum meningkat dari 581 menjadi 801 (peningkatan
38%) dan jumlah tempat tidur dari 63.643 menjadi 94.966 (peningkatan 49%).
Peningkatan tertinggi dari RS umum terdapat dalam sektor swasta, dari
113 menjadi 277 (peningkatan 145%). Akses ke pelayanan kesehatan meningkat
140% di sektor perkotaan dan 39% di sektor pedesaan.
Namun, 20% dari penduduk termiskin masih belum mendapatkan akses ke pelayanan
kesehatan. Untuk menjamin pembangunan dan perawatan dari lembaga-lembaga
ini, telah didirikan unit "swadana" di dalam RS publik (umum).
Hambatan yang ada dalam melaksanakan perbaikan di dalam prasarana fisik
adalah pembiayaan yang terbatas dan sulitnya memenuhi kebutuhan masyarakat
yang tinggal di daerah terpencil di negara Indonesia yang berpulau-pulau
ini. Untuk menanggapi tantangan dari pembangunan kesehatan, konsep "RS
Proaktif" yang mirip dengan konsep "RS tanpa dinding pembatas"
sedang dicoba dengan kerjasama dengan WHO di dua daerah di propinsi Jawa
Barat.

4.4 Obat esensial dan suplai lainnya
Setelah diterapkannya daftar obat esensial nasional di sarana kesehatan
publik di seluruh Indonesia dan diadakannya tindakan intervensi dalam
penggunaan obat rasional, ada penurunan yang lumayan dalam penggunakan
obat antibiotik secara berlebihan, racikan bermacam-macam obat dan suntikan.
Jumlah pusat kesehatan yang mengalami kekurangan obat telah menurun, dan
persediaan dan keanekaragaman obat-obatan telah menunjukkan peningkatan.
Di tahun 1995, sampel dari sarana di daerah terpencil menunjukkan pemilikan
obat sebanyak 45% dari daftar obat. Diamati bahwa pengalokasian obat-obatan
yang digunakan untuk menyelamatkan jiwa meningkat, terutama bagi anak-anak.
Untuk memastikan persediaan dan suplai yang tepat waktu dari obat-obatan
esensial bermutu tinggi dengan harga terjangkau, perusahaan-perusahaan
milik pemerintah telah ditunjuk sebagai sumber suplai yang utama. Produksi
obat generik sekarang dilakukan oleh empat pemerintah dan 26 perusahaan
farmasi swasta. Obat esensial bagi sektor publik disubsidi oleh pemerintah
dan harga obat yang digunakan pada tingkat PHC juga dikontrol. Hambatan
utama adalah kurangnya pengertian dan kecurigaan masyarakat akan kualitas
obat generik, penggunaan obat secara irasional yang masih banyak terjadi
di pusat kesehatan, dan terbatasnya dana.

4.5 Kemitraan internasional untuk kesehatan
Bantuan asing memegang peranan penting dalam kesehatan publik. Sejak
Pelita IV, 20-30% dari anggaran belanja kesehatan publik ditanggung oleh
bantuan asing, dimana lebih dari 70% telah digunakan untuk pembangunan
pelayanan kesehatan dan SDM kesehatan. Hambatan dalam pembangunan dengan
mitra internasional adalah ketidakadaannya pekerja yang terampil dalam
mempersiapkan proposal untuk mengerahkan dan mengatur bantuan asing. Peranan
badan non-pemerintah seperti Lions Club, Rotary, dll sedang dipertimbangkan
dalam pembangunan kesehatan, dan hubungannya akan ditingkatkan.
BAGIAN 5: PEMBANGUNAN KESEHATAN

5.1 Kebijakan dan stategi kesehatan
Sehubungan dengan kebijakan dan strategi kesehatan, sudah banyak inovasi
yang ditawarkan di banyak area, seperti perencanaan tenaga kerja manusia,
gizi, imunisasi, suplai air, obat generik, pembiayaan pelayanan kesehatan
dan pengelolaan kesehatan daerah. Pelaksanaan kebijakan "angka pertumbuhan
nol" pada pegawai negeri telah mempengaruhi (secara merugikan) pengerahan
dokter-dokter untuk bekerja di pusat kesehatan milik pemerintah. Untuk
mengatasi masalah ini, DepKes menawarkan rencana untuk mengontrak para
dokter, yang tidak menjamin keamanan pekerjaan (job security), oleh karena
itu menjadi tidak menarik. Di tahun 1992 dikeluarkan hukum kesehatan yang
menjabarkan peranan pemerintah di bidang kesehatan selama dekade mendatang
dan memberikan dasar-dasar bagi peraturan kesehatan lainnya. Hukum jaminan
sosial juga dikeluarkan di tahun 1992 yang mengharuskan perusahaan dengan
lebih dari 10 pegawai untuk memberikan pegawainya semacam benefit kesehatan.

5.2 Kerjasama intra-sektoral
Suasana untuk mengadakan kerjasama intra-sektoral adalah menjanjikan,
seperti yang terbukti pada usaha bersama dari beberapa sektor yang berbeda
dalam melaksanakan rencana global mengenai AIDS, kampanye imunisasi polio,
suplai air di daerah pedesaan dan sanitasi, dll. Badan-badan intra-sektoral
dengan perwakilan dari departemen-departemen yang berhubungan di Indonesia
122 dan orang-orang lain yang berhubungan telah didirikan, contohnya:
komisi AIDS dan komite untuk program imunisasi polio. Pertemuan koordinasi
diatur oleh Departemen Kesejahteraan Sosial. Meskipun adanya usaha-usaha
ini, tingkah laku sektoral yang negatif masih tetap ada, seperti juga
halangan untuk bekerja dengan badan non-pemerintah dan sektor swasta.

5.3 Organisasi dari pembangunan kesehatan
Di tahun 1987, tanggung jawab kesehatan masyarakat diserahkan pada pemda.
Sebagai hasil dari desentralisasi ini, pemerintah setempat diberikan kekuasaan
dan tanggung jawab untuk menyediakan pelayanan kesehatan yang utama dan
pelayanan referal. Di tingkat berikutnya, pelayanan diberikan oleh pusat
kesehatan dan RS, dan pada tingkat tersier ada RS yang lebih besar dan
lembaga kesehatan lainnya yang lebih khusus. Kantor kesehatan propinsi
memiliki tanggung jawab operasional, sedangkan pengawasan kebijakan dan
panduan teknis tetap dipegang oleh DepKes, yang memiliki perwakilan/ kantor
di tk. daerah dan propinsi. Di tahun 1994, Dewan Penasehat Kesehatan Nasional
dipilih oleh Presiden dengan ahli-ahli dari berbagai bidang untuk menasehati
DepKes dalam kebijakan kesehatan nasional. Di tahun 1996, dilaksanakan
pengaturan kembali di kantor-kantor kesehatan di propinsi dan daerah untuk
meningkatkan proses desentralisasi dan untuk meningkatkan kualitas dari
panduan teknis dan operasional untuk pelayanan kesehatan setempat dan
kesehatan di sektor swasta.

5.4 Proses pengaturan
Kebijakan teknis yang ditentukan oleh DepKes dijadikan kebijakan propinsi
untuk memenuhi kebutuhan di propinsi. Rencana keseluruhan dianjurkan melalui
pertemuan koordinasi di setiap tingkat pengelolaan dan pelayanan. Ada
penanganan data dan informasi yang diperlukan bagi pengelolaan kesehatan.
Proses pembiayaan telah dirubah supaya projek dapat dilaksanakan di tingkat
daerah. Ada peningkatan subsidi untuk pemerintah setempat. Persiapan pembiayaan
tidak hanya berdasarkan proyeksi, melainkan juga berdasarkan kebutuhan
yang ada dan aspirasi dari masyarakat. Hambatan utama adalah kurangnya
keahlian untuk mengatur di berbagai tingkat dan kerelaan untuk menerima
tanggung jawab yang berubah melalui proses desentralisasi. Pembaharuan
dari rencana HFA akan melingkupi pelatihan manajemen, meningkatkan organisasi
setempat, dan memperbaiki komunikasi antara bagian kesehatan dan badan
perencanaan di berbagai tingkat.

5.5 Sistem informasi kesehatan
Informasi kesehatan telah ditingkatkan dengan pengembangan pencatatan
dan sistem laporan yang sederhana di pusat kesehatan untuk menjamin kelengkapan
dan keakuratan data, juga sistem pengawasan yang lebih baik dan terpadu.
Mekanisme formal bagi laporan eksekutif kesehatan untuk dikirim dari tingkat
propinsi ke tingkat pusat juga sudah dikembangkan. Profil kesehatan nasional,
regional dan daerah juga sudah dibentuk. Teknologi komputer yang maju,
yang memungkinkan kesempatan yang tak terbatas untuk perbaikan dari sistem
informasi juga sedang diperkenalkan.

5.6 Aksi masyarakat
Telah ada trend peningkatan di masyarakat, badan non-pemerintah dan sektor
swasta dalam partisipasinya di dalam pembangunan kesehatan. Contohnya
adalah: bantuan dalam pelaksanaan program kesehatan (seperti imunisasi,
pengawasan AIDS, kesehatan ibu dan anak/KB, dan program pengawasan penyakit
lainnya), kontribusi dalam bentuk uang tunai atau bantuan untuk perbaikan
sarana kesehatan, dan bantuan dari sukarelawan. Telah dibentuk suasana
yang lebih baik bagi peran serta badan non-pemerintah dan petugas kesehatan
mendapat pelatihan keterampilan dalam bekerja bersama masyarakat. DepKes
telah menyusun buku panduan "pengelolaan aksi masyarakat dalam kesehatan"
sebagai pendekatan sosial dalam pembangunan kesehatan.

5.7 Kewaspadaan terhadap keadaan darurat
Tindakan-tindakan yang diambil untuk memperbaiki kewaspadaan terhadap
keadaan darurat atau bencana adalah pengidentifikasian resiko dan bahaya,
memperbaiki kesiapan dengan latihan penanggulangan bencana, dan tindakan
dan cara-cara menyelamatkan jiwa. Hambatan utama adalah kurangnya penilaian
dan rencana tanggapan yang cepat, kurangnya rencana selanjutnya dalam
sektor kesehatan, dan rencana dari tindakan masyarakat selama bencana
dan keadaan darurat. Ukuran untuk memperbaiki kewaspadaan terhadap keadaan
darurat adalah pengembangan sistem informasi bencana dan perbaikan dari
pelatihan yang berurusan dengan keadaan darurat.

5.8 Riset kesehatan dan teknologi
Berdasarkan keputusan dari DepKes, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan berkewajiban untuk menyediakan panduan bagi kegiatan riset dan
pembangunan dalam ruang lingkup DepKes. Hasil riset yang penting telah
dilaporkan dan digunakan dimana berhubungan dalam bidang penyakit yang
menular, anemia, perbaikan vitamin A, IDD, protein-energy malnutrition
(PEM), riset kebijakan kesehatan nasional, dll. Tindakan yang diambil
dalam pembangunan riset kesehatan dan teknologi termasuk: dasar-dasar
prioritas dalam riset, memperbaiki komunikasi riset, membangun kapasitas
(pelatihan, struktur karir, sarana riset dan jaringan Hellis), mengerahkan
sumber-sumber, dan menggunakan hasil riset. Dan masih banyak lagi, namun,
diperlukannya bantuan di bidang-bidang ini. Untuk masa yang akan datang,
koordinasi dan pengelolaan riset akan mendapat perhatian utama.
BAGIAN 6: PELAYANAN KESEHATAN

6.1 Pendidikan dan Upaya kesehatan
Pendidikan dan pengupayaan kesehatan mendapat pertimbangan utama. Hukum
kesehatan memberikan petunjuk yang jelas pada pendidikan dan upaya kesehatan
(health education dan promotion (HEP)), yang berbunyi " fokus dari
pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan pengetahuan, tingkah laku
dan praktik (dalam kesehatan) dari rakyat". HEP adalah program yang
utama, bukan hanya sebagai program pembantu. Di awal tahun 1990, HEP fokus
pada program kesehatan utama yang tertentu, seperti kesehatan ibu dan
anak, gizi, kesehatan lingkungan, perubahan gaya hidup, dan pembiayaan
kesehatan. HEP telah dilaksanakan di rumah tangga, sekolah, tempat kerja,
dan di badan-badan kesehatan. Pengembangan jaringan dengan badan non-pemerintah
juga telah ditingkatkan. Hambatan yang utama adalah kurangnya ahli pendidikan
kesehatan di tingkat propinsi dan di tingkat yang lebih rendah lagi, dan
juga kurangnya dana di semua tingkatan guna memperbaiki keefektifan program.

6.2 Kesehatan ibu dan anak/ keluarga berencana
Dalam tahun 1990-1994 proporsi wanita hamil yang melakukan pemeriksaan
kandungan dengan petugas kesehatan yang terampil selama masa kehamilan
(4 kunjungan atau lebih) adalah 61,62% dan meningkat menjadi 69,7% dalam
tahun 1993-1997. Proporsi dari kelahiran yang ditangani oleh petugas kesehatan
(dokter atau bidan) adalah 36,5% dan meningkat menjadi 43,2%. Proporsi
dari wanita menikah dalam usia mampu melahirkan anak yang menggunakan
alat kontrasepsi adalah 47,1% di tahun 1991 dan meningkat menjadi 54,7%
di tahun 1997. Pengerahan dari 54.120 bidan masyarakat untuk bekerja di
tingkat pedesaan telah meningkatkan bantuan terlatih pada saat kelahiran
dari 32% dalam tahun 1986-1991 menjadu 43% dalam tahun 1993-1997 dan mempengaruhi
pengurangan AKI dan AKB. Anjuran dan mobilisasi sosial bagi ibu sehat
(safe motherhood) juga telah ditingkatkan. Adanya peningkatan kesadaran
akan perlunya peningkatan mutu pelayanan di bidang kesehatan ibu dan anak.
Tindakan lainnya termasuk: program perencanaan dan pembiayaan yang terpadu
di tingkat daerah, koordinasi intra-sektoral, pelatihan untuk menyelamatkan
jiwa bagi para bidan, dan pengenalan "kartu kesehatan" untuk
menjamin keselamatan bagi mereka miskin. Hambatan utamanya adalah terbatasnya
sumber-sumber dan luasnya variasi dalam topografi, tingkah laku sosial
budaya, dan prasarana kesehatan yang ada antara propinsi.

6.3 Imunisasi
Program imunisasi telah memberikan hasil yang cukup. Di tahun 1994, proporsi
dari anak-anak yang berusia 12-23 bulan yang lengkap imunisasinya pada
saat ulang tahunnya yang pertama adalah 44,4% dan telah meningkat mendjadi
46,9% di tahun 1997. Di tahun 1997, diantara anak-anak yang berusia 12-23
bulan, pelayanan vaksinasi individu adalah: 64,1% untuk DPT3, 73,6% untuk
OPV4, 70,9% untuk vaksinasi campak, dan 84,9% untuk BCG. Proporsi dari
wanita yang terimunisasi dengan dua dosis tetanus toxoid adalah 53,4%.
Program imunisasi bersifat berkesinambungan, dihargai oleh orang tua dan
dibantu secara baik oleh petugas kesehatan yang sukarela. Sebagian besar
dana berasal dari pemerintah, hanya sebagian kecil saja yang berasal dari
bantuan asing. Hambatan yang utama adalah kurangnya pengawasan yang bermutu
tinggi dan hambatan pembiayaan bagi studi riset operasional, dll.

6.4 Pencegahan dan pengawasan penyakit endemik lokal
Pencegahan dan pengawasan dari penyakit endemik lokal telah memberikan
sebagian hasil. Mengenai penyakit menular langsung, seperti tuberkulosis
paru, kusta, diare, pneumonia pada anak, dan penyakit yang menular melalui
hubungan seksual (STD) telah mengalami penurunan yang lumayan pada jumlah
kasus dan kematian, dan juga telah berhasil meningkatkan pengelolaan program.
Konversi sputum TB dalam tahun 1999-2000 adalah 82% dan tingkat kesembuhan
adalah 33% D(1999/2000). Prevalansi kusta telah menurun dari 0,36% di
tahun 1992 menjadi 0,19% di tahun 1995, dan proporsi kematian anak berusia
12-59 bulan yang disebabkan oleh diare menurun dari 25% di tahun 1992
menjadi 19% di tahun 1995.
Belum ada kemajuan yang tercatat mengenai penyakit yang berasal dari
hewan, seperti dengue, malaria, fiariasis, schistosomiasis. Contohnya:
tingkat kasus kematian demam berdarah dengue telah menurun dari 2,9% di
tahun 1992 menjadi 2,0% di tahun 1998, dan 85% dari rumah tangga telah
bebas dari pengembangbiakkan jentik-jentik. Kejadian malaria mengalami
turun-naik di antara pulau-pulau. Hampir tidak ada perubahan pada filariasis
dan schistosomiasis. Hambatan yang utama adalah luasnya daerah, sulitnya
terain, perbedaan sosial budaya, dan terbatasnya keuangan. Rencana di
masa depan akan termasuk desentralisasi dari kegiatan pengawasan penyakit,
dan keterlibatan yang lebih lagi dari masyarakat dan sektor swasta.

6.5 Perawatan terhadap penyakit umum dan kecelakaan
Mengenai perawatan infeksi pernapasan akut (acute respiratory infections
(ARIs)), penekanan hanya dilakukan pada pengenalan awal dan referal dari
anak-anak yang menderita pnemonia oleh bidan desa dan masyarakat. Di tahun
1997, 69% dari anak-anak yang berusia di bawah lima tahun yang menderita
batuk dan napas yang cepat (ARI) dibawa ke sarana atau pusat kesehatan.
Mengenai penyakit diare, tingkat penggunaan paket ORS meningkat dari 45%
di tahun 1994 menjadi 482% di tahun 1997, dengan meningkatnya akses ke
ORS dan tempat perawatan, dan pelayanan ORS atau peningkatan pemasukkan
cairan adalah 83,6% di tahun 1994 meningkat menjadi 84,9% di tahun 1997.
Standar perawatan kasus juga telah dibentuk.
Perkiraan insiden kanker di Indonesia adalah 100 per 100.000 penduduk.
Namun, hanya 3,2% dari kasus kanker yang baru mencari perawatan di RS.
Program yang dilaksanakan oleh projek pengawasan kanker terpadu yang berbasis
komunitas di Sidoarjo menunjukkan kenaikan 10-20% dari kasus kanker yang
menerima perawatan dari RS. Pendekatan yang serupa di lima propinsi di
Jawa-Bali menunjukkan hasil yang serupa. Tengah dilaksanakan upaya untuk
mengurangi harga obat-obatan yang mahal dan meningkatkan kemampuan untuk
mendeteksi kasus. Di tahun 1995, penyakit kardiovaskular menjadi penyebab
utama kematian di Indonesia (Surkesnas 1995). Studi Monica di Jakarta
menemukan darah tinggi dan meningkatnya kadar lemak dalam darah sebagai
faktor-faktor penyebabnya. Tindakan yang diambil akan berfokus pada pendeteksian
awal dan memperbaiki sarana untuk perawatan, sejalan dengan meningkatkan
kesadaran masyarakat. Rencana selanjutnya adalah untuk memperkenalkan
RS yang berkonsep "proaktif".

BAGIAN 7: TREND DALAM STATUS KESEHATAN

7.1 Tingkat harapan hidup
Tingkat harapan hidup pada saat kelahiran diperkirakan adalah 67,86 tahun
untuk laki-laki dan wanita (CBS). Proyeksi penduduk 1995-2005 (2000) akan
mengakibatkan peningkatan jumlah orang yang berusia lebih tua dan peningkatan
insiden dari penyakit degeneratif. Ini akan mengakibatkan kenaikkan pada
anggaran belanja kesehatan. Pendekatan yang menyeluruh untuk mengupayakan
status kesehatan dan memperbaiki harapan hidup telah dilaksanakan dengan
keluarga sebagai titik pusatnnya. Tugas ini diberikan kepada direktorat
pengupayaan kesehatan keluarga yang berada di dalam DepKes.

7.2 Mortalitas
Angka kematian bayi (AKB) menurun dari 74,2 per 1000 kelahiran dalam
tahun 1981-1991 menjadi 52,5 per 1000 kelahiran yang hidup dalam tahun
1987-1997, angka kematian balita dari 107 menjadi 70,6 per 1000 kelahiran
yang hidup, dan angka kematian maternal dari 450 dalam tahun 1985-1986
menjadi 390 per 100.000 kelahiran yang hidup dalam tahun 1989-1994. Beberapa
faktor termasuk pelayanan imunisasi, partisipasi masyarakat, pertumbuhan
ekonomi di daerah pedesaan, upaya dan pendidikan kesehatan, berkembangnya
kesadaran masyarakat, dan perbaikan sarana dan pelayanan kesehatan, telah
mempengaruhi terhadap perubahan yang signifikan dalam mortalitas. Hambatan
yang ada dalam mengurangi kematian termasuk: meningkatnya urbanisasi,
kemiskinan, dan banyaknya daerah yang terpencil dan pulau-pulau yang kecil
yang menyebabkan sulitnya untuk berkomunikasi. Rencana selanjutnya akan
menekankan kerjasama intra-sektoral, partisipasi masyarakat, dan penyerahan
kekuasaan untuk tingkat propinsi dan tingkat yang lebih rendah.

7.3 Morbiditas
Beberapa perubahan yang signifikan terhadap morbiditas telah terjadi
sejak evaluasi HFA yang kedua. Jumlah kasus kusta yang baru telah menurun
dari 41.649 di tahun 1995 menjadi 11.387 di tahun 1999. Pengenalan dan
perluasan dari terapi berbagai macam obat (multidrug therapy) mungkin
telah mencegah penyebaran kusta, dengan harapan untuk menghapuskannya
di masa yang akan datang. Kegiatan pengawasan malaria telah memberikan
efek yang minimal pada insiden malaria, dengan jumlah kasus yang menurun
dari 1.668.504 di tahun 1992 menjadi 1.518.140 di tahun 1995. Penemuan
kasus dan perawatan telah diintensifikasikan, tetapi yang menjadi hambatan
utama adalah resistansi terhadap obat P. falciparum, kesulitan transportasi,
dan terbatasnya dana. Prevalansi tuberkulosis juga mengalami peningkatan
sejak evaluasi yang kedua, yang disebabkan oleh pelayanan yang terbatas
dari program pencegahan, tingginya tingkat orang yang keluar dari perawatan,
dan resistansi terhadap berbagai macam obat. Perhatian utama akan diberikan
pada penggunaan metode DOTS, yang diperkirakan memiliki tingkat kesembuhan
sebesar 85%. Setelah luasnya pelayanan imunisasi, insiden polio diharapkan
akan turun secara signifikan. Di tahun 1995, pengawasan polio yang lebih
baik diperkenalkan, dengan diagnosa yang didukung oleh hasil laboratorium.
Menurunnya kasus neonatal tetanus diselidiki antara tahun 1992-1995 (807
menjadi 390), yang disebabkan oleh meningkatnya pelayanan imunisasi, pengawasan
yang lebih baik, dan peningkatan dari ruang praktik yang bersih dan higienis.
Penurunan yang dramatis pada angka kesakitan campak dari 91.645 kasus
di tahun 1992 menjadi 37.594 kasus di tahun 1995, dan pada poliomyelitis
dari 148 menjadi 14 kasus, yang dikarenakan oleh tingginya pelayanan imunisasi,
pengamatan yang intensif, dan pencegahan perjangkitan.

7.4 Disabilitas
Survey nasional telah memperkirakan prevalansi kebutaan adalah 1,47%
(1996). Penyebab utama dari kebutaan ini adalah katarak dengan prevalansinya
1,02%. Rencana selanjutnya akan membutuhkan kegiatan perawatan mata utama
yang terpadu dimasukkan ke dalam pembangunan PHC, dan juga mendirikan
program "pelayanan penghapusan katarak" yang lengkap. Untuk
masalh disabilitas, pendekatan rehabilitasi yang berbasis komunitas telah
diterapkan dan dilaksanakan di Jawa Tengah dengan tujuan untuk diperluas.
Hambatan yang utama adalah kurangnya SDM dan sumber keuangan. Tindakan
selanjutnya untuk disabilitas adalah untuk meningkatkan kebijakan kesehatan
dan mengembangkan koordinasi yang lebih baik dengan badan non-pemerintah
dan sektor swasta.
BAGIAN 8: PANDANGAN KE DEPAN

8.1 Penilaian keseluruhan dan masalah strategis
Angka kematian telah memperlihatkan penurunan yang bertahap walaupun
pelan, terutama pada rasio angka kematian maternal. Persistensi dari banyak
penyakit yang menular, yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat
dan munculnya kembali penyakit lainnya menjadi suatu keprihatinan. Peningkatan
yang diperoleh dalam penyakit yang tidak menular, terutama penyakit kardiovaskular
dan degeneratif, adalah masalah lain yang perlu ditangani. Masalah gizi
yang utama adalah PEM dan kekurangan gizi mikro, terutama anemia dengan
kekurangan zat besi, IDD dan kekurangan vitamin A.
Usaha-usaha telah diupayakan untuk mengalokasi kembali sebagian subsidi
untuk RS publik untuk membantu pelayanan kesehatan primer, terutama bagi
mereka yang kurang pelayanannya, dengan merubah RS publik menjadi unit
swadana. Program "kartu kesehatan" juga telah diperkenalkan
untuk memperbaiki akses ke pelayanan kesehatan bagi mereka yang miskin.
Masyarakat telah dihimbau unutk bergabung dengan JPKM untuk mendapatkan
perlindungan kesehatan dan akses ke pelayanan yang lebih baik.
Dalam pengelolaan sumber-sumber yang ada, pengalokasian dana umum unutk
membantu tindakan pencegahan yang efektif dan hemat menjadi masalah yang
penting. Dalam konteks ini, proses perencanaan dan pembiayaan yang terpadu
akan memberikan keleluasaan pada administrasi di tingkat daerah untuk
memberikan sumber-sumber lebih untuk mendukung tindakan tertentu yang
hemat bagi daerah. Sebagai konsekuensi dari kebijakan nasional akan angka
pertumbuhan nol pada pengawai sipil, dokter, perawat, dan petugas paramedis
sekarang dipekerjakan berdasarkan kontrak selama waktu tertentu, dan ini
telah menyebabkan ketidaktarikan untuk bekerja di sektor publik.
Dalam pembangunan kesehatan, masalah-masalah yang penting berkisar pada:
penerapan hukum dan tindakan legislatif bagi perlindungan kesehatan, organisasi
administrasi kesehatan untuk pengaturan yagn lebih efektif, penilaian
dari fungsi departemen kesehatan dalam kaitannya dengan kebijakan administrasi
desentralisasi daerah, pembangunan sistem informasi pengelolaan kesehatan
(health management information system (HMIS)), dan pergerakan menuju privatisasi
dari pelayanan kesehatan sejalan dengan meningkatnya permintaan untuk
teknik medis dan pelayanan yang canggih. Dalam bidang pelayanan kesehatan,
walaupun persediaan telah meningkat secara besar, perhatian perlu diberikan
pada mutu pelayanan yang diberikan, terutama bagi sarana di sektor publik.
Trend pembangunan sosial budaya secara keseluruhan telah menunjukkan
hasil yang positif, walaupun ada pengaruh-pengaruh yang negatif yang berhubungan
dengan berubahnya gaya hidup di daerah perkotaan. Keadaan politik yang
menyebabkan pembangunan kesehatan, peranan wanita, ekuitas, dan peran
serta masyarakat dapat dianggap sebagai kesempatan yang baik sekali bagi
pembangunan kesehatan di masa yang akan datang.
Mitra internasional di bidang kesehatan dulu didominasi selama beberapa
waktu oleh bantuan keuangan secara multilateral dan bilateral, terutama
bagi pembangunan prasarana fisik. Belum lama ini, rencana kerjasama telah
dilakukan dengan mengikutsertakan negara-negara Asia Tenggara yang lainnya.

8.2 Visi di masa depan
Dasar tujuan yang luas adalah untuk mencapai gol kesehatan yang optimal,
yang akan membuat orang untuk mengejar kehidupan ekonomi yang produktif
(gol dari HFA). Untuk mencapai ini, pelayanan kesehatan harus memiliki
mutu yang cukup dan terbuka bagi semua orang. Pembangunan kesehatan harus
menyediakan dasar-dasar yang lebih sesuai dengan desentralisasi administrasi
kesehatan, terutama di tingkat daerah, dan meluruskan struktur organisasi
dari DepKes untuk menyediakan bantuan teknis yang lebih lagi, penilaian
yang efektif terhadap program, analisa kebijakan, pengerahan sumber yang
lebih baik lagi bagi kesehatan, dan untuk mewujudkan lingkungan dengan
gaya hidup yang sehat.

8.3 Strategi yang diusulkan
Rangka rencana untuk masa yang akan datang memiliki lima bidang utama:
menjamin kemerataannya pelayanan kesehatan, meningkatkan perlindungan
dan upaya kesehatan, meningkatkan sektor kesehatan, mengembangkan dan
meningkatkan program kesehatan tertentu, dan meningkatkan kerjasama internasional
dalam bidang kesehatan.
|