English | Indonesia
PRODUK DAN INFORMASI
BUKTI DAN INFORMASI UNTUK KEBIJAKAN : Bukti untuk Kebijakan Kesehatan


Ringkasan laporan final dari Lokakarya SURKESNAS mengenai Bukti dalam Membuat Keputusan (28 Januari - 28 Maret 2002, Jakarta, Indonesia)


Pendahuluan: Kontribusi WHO pada SURKESNAS
Sejak bulan Agustus 2001, Sekretariat SURKESNAS dalam Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan di dalam naungan DepKes di Indonesia telah dibantu secara teknis dan finansiil oleh WHO Jakarta dalam melaksanakan penggabungan data dari bagian-bagian yang berbeda dari data SURKESNAS 2001 (#1), perbaikan data, pengaturan, pengelolaan, dan analisa. Guna mendukung kegiatan ini, WHO juga turut membantu mengadakan lokakarya bagi tenaga-tenaga ahli dari DepKes untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menganalisa data, untuk menyempitkan jurang yang ada antara periset dan pembuat keputusan dalam DepKes dan untuk menginformasikan peserta dalam kesehatan masyarakat, arti dari data SURKESNAS 2001 dalam program perencanaan dan pengevaluasian.

Garis Besar dari Lokakarya
Berdasarkan data yang diperlukan oleh program-program dalam DepKes, tujuh topik telah dipilih oleh pembuat keputusan dalam DepKes dan periset senior dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan: Pertolongan Persalinan, Asuransi Kesehatan, Pemanfaatan Fasilitas Kesehatan, Kebiasaan Merokok, Gizi, Kesehatan Lingkungan, dan Obat Tradisional. Dua puluh satu peserta, dari Badan Litbangkes dan ahli-ahli kesehatan dari program-program di DepKes, bekerja sama dalam tim dimana tiap tim beranggotakan tiga orang, untuk menganalisa data SURKESNAS 2001 dan menulis laporan. Para peserta mengadakan pertemuan setiap dua sampai tiga minggu sekali untuk mengikuti ceramah yang diberikan oleh nara sumber mengenai penganalisaan data, presentasi, interpretasi, dan penganalisaan kebijakan. Dalam waktu dua bulan, mereka bekerja dalam tim dengan menerapkan pengetahuan yang didapat dari ceramah, praktik, dengan menyelesaikan tugas-tugas, yang dirancang untuk menulis analisa data sebanyak 20 halaman pada akhir dari lokakarya. Dalam proses ini, nara sumber dan konsultan dari WHO mengawasi setiap tim, mengevaluasi kualitas dari tugas-tugas yang diberikan, dan memberikan tanggapan. Selama lokakarya, diadakan juga beberapa acara dimana para peserta mengemukakan kesimpulan mereka, dan pada tanggal 28 Maret, kesimpulan final dipresentasikan kepada para pembuat keputusan dalam DepKes dan orang-orang dari badan donatur di Jakarta.

Hasil dari Lokakarya
Dalam waktu dua bulan, para peserta meningkatkan keterampilan dan metode mereka dalam menganalisa data, dengan menggunakan SPSS, dan juga belajar mengenai data-data tertentu yang diperlukan dalam program DepKes. Mereka juga belajar bagaimana caranya untuk menyampaikan kesimpulan mereka kepada pembuat keputusan dalam DepKes. Setelah beberapa penilaian dari tugas-tugas mereka oleh nara sumber, para peserta menyimpulkan laporan mereka, yang berisi kesimpulan dari data-data dan rekomendasi untuk suatu kebijakan. Bagian berikut ini berisi rangkuman dari laporan final yang diserahkan. Sejauh ini ada tiga laporan final yang tersedia, dengan judul:

  1. Faktor-Faktor Sosial Ekonomi yang berhubungan dengan Determinan Sosial Ekonomi Pertolongan Persalinan dalam periode 1996-2000 di Indonesia
  2. Pembinaan Perkembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan dan Pola Pemanfaatannya pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan
  3. Aksesibilitas Masyarakat ke Pelayanan Kesehatan

I. Faktor-Faktor Sosial Ekonomi yang berhubungan dengan Determinan Sosial Ekonomi Pertolongan Persalinan dalam periode 1996-2000 di Indonesia, oleh Agus Suprapto (#2) , Dwi Hapsari (#3) danL.C. Hermawan (#4)

Di dalam program Safe Motherhood, pelayanan persalinan oleh staf kesehatan (dokter atau bidan) adalah salah satu indikator utama. Di dalam periode 1996-2000, 78.511 kelahiran yang hidup tercatat dalam SUSENAS 1998 dan 2001. Berdasarkan data dari kelahiran ini, diperkirakan trend pelayanan persalinan oleh staf kesehatan. Pelayanan telah meningkat dari 56% persalinan di tahun 1996 menjadi 61% persalinan di tahun 2000, namun itu masih berada di bawah target nasional untuk tahun 2000 (80% persalinan). Di daerah perkotaan, pelayanan telah mencapai targetnya dan masih terus meningkat, dari 83% menjadi 85%. Namun, walaupun sudah ada usaha untuk mengerahkan bidan desa yang terlatih ke desa-desa, pelayanan persalinan yand dibantu oleh staf kesehatan di daerah pedesaan adalah 41% di tahun 1996, yang masih berada di bawah target dan hanya menunjukkan peningkatan yang lambat menjadi 47% di tahun 2000.

Para penulis juga melihat praktik pertolongan persalinan secara terperinci berdasarkan daerahnya. Di Bali, pelayanan persalinan yand dibantu oleh staf kesehatan berada di atas target, contohnya: 92% di tahun 1996 dan meningkat menjadi 91% di tahun 2000. Di pulau-pulau bagian timur dari Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua, pelayanan persalinan yang dibantu oleh staf kesehatan kurang dari 50% (Tabel 1).

Tabel 1. Persentasi Distribusi dari Pelayanan Persalinan yang Dibantu oleh Staf Kesehatan di periode 1996-2000 Berdasarkan Pulau-Pulau yang Besar (SUSENAS 2001).

Walaupun status ekonomi dari rumah tangga, pendidikan orang tua, pekerjaan, dan pelayanan asuransi kesehatan dapat berhubungan dengan pelayanan persalinan yang dibantu, SUSENAS 2001 hanya memiliki data dari tahun 2000 saja dan tidak dari tahun-tahun sebelumnya. Oleh sebab itu, hanya kelahiran di tahun 2000 saja yang dianalisa sehubungan dengan faktor-faktor tersebut.

Empat puluh persen dari penduduk berada di bawah garis kemiskinan (berdasarkan anggaran belanja makanan yang kurang dari 2100 kkal per orang per hari), dan di antara kelompok ini, 50% dari kelahiran yang hidup dibantu oleh staf medikal, dibandingkan dengan 69% dari kelahiran di atas garis kemiskinan.

Tabel 2. Persentasi Distribusi dari Pelayanan Persalinan yang Dibantu oleh Staf Kesehatan di periode 1996-2000 Berdasarkan Karakteristik Latar Belakang


Kelahiran ibu yang berusia <20 tahun dan >=35 tahun memiliki resiko yang lebih tinggi akan mortalitas bayi. Pelayanan persalinan yang dibantu oleh staf kesehatan di antara kelompok yang beresiko tinggi ini meningkat secara perlahan, dan peningkatan dari ibu muda sedikit lebih cepat daripada ibu yang tua (Tabel 2).

Pelayanan persalinan yang dibantu oleh staf kesehatan meningkat di antara ibu yang tidak memiliki pendidikan, tetapi pelayanannya masih berada di bawah target.

Rekomendasi:

Berdasarkan kesimpulan yang didapat, penulis membuat rekomendasi berikut:

  • Daerah pedesaan harus mendapatkan prioritas dari pelayanan persalinan yang dibanti oleh staf kesehatan, dengan perhatian khusus pada bagian timur di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara).
  • Bantuan harus diprioritaskan bagi kelompok ekonomi rendah, yang kurang pendidikan, masyarakat di pedesaan, dan petani, supaya dapat mengupayakan akses mereka ke pertolongan persalinan yang sepadan.
  • Mengevaluasi kebiijakan dan pelaksanaan dari "program bidan desa" di daerah pedesaan untuk meningkatkan pemanfaatannya.

II. Pembinaan Perkembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan di Indonesia dan Pola Pemanfaatannya pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan, oleh Slamet Riyadi (#5), Trisa Wahyuni Putri (#6) dan Sarimawar Djaja (#7).

Dalam makalah ini, data modul dari SUSENAS 2001 telah dianalisa, untuk mempelajari persediaan dan pemanfaatan dari rencana jaminan pemeliharaan kesehatan (atau asuransi kesehatan), dan biaya pelayanan kesehatan bagi tiap anggota keluarga dalam rumah tangga di Indonesia.

Program berikut ini dijabarkan sebagai jaminan pemeliharaan kesehatan:

  • Pemerintah bagi pegawai negeri (Askes)
  • Asuransi kesehatan bagi buruh (Astek)
  • Asuransi perusahaan
  • Asuransi kesehatan lainnya (asuransi swasta, dll)
  • Program jaminan pemeliharaan kesehatan yang diatur oleh masyarakat (Dana Sehat)
  • Kartu Sehat bagi fakir miskin
  • Program jaminan pemeliharaan kesehatan oleh pemerintah bagi non-pegawai negeri

Di Indonesia, berdasarkan studi, 20% dari masyarakat terlindungi oleh salah satu jaminan pemeliharaan kesehatan di tahun 2001. Dari mereka yang terlindungi oleh jaminan pemeliharaan kesehatan, kira-kira setengah dari mereka tergabung dalam Askes. Masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan dan yang tinggal di daerah pedesaan tidak terlindungi oleh kebanyakan program kecuali oleh Kartu Sehat (Tabel 1).

Tabel 1. Persentasi Distribusi dari Penduduk yang Terlindungi oleh Berbagai Macam Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Berdasarkan Karakteristik Latar Belakang

Pelayanan dari program ini telah meningkat, dari 14% di tahun 1998 menjadi 20% di tahun 2001. Peningkatan yang tajam terjadi di kelompok ekonomi terendah. Ini sebagian mungkin disebabkan oleh jaringan pengaman sosial (JPS), yang diperkenalkan setelah krisis ekonomi di tahun 1998, untuk meringankan beban mereka yang miskin di negara ini. Di seluruh wilayah, peningkatan terjadi lebih cepat di daerah pedesaan (8%) dibandingkan di daerah perkotaan (3%) (Tabel 2).

Tabel 2. Persentasi Distribusi dari Masyarakat yang Terlindungi oleh Berbagai Macam Jaminan Pemeliharaan Kesehatan dari tahun 1998 - 2000 Berdasarkan Karakteristik Latar Belakang

Di antara program pelayanan kesehatan non-publik, pemegang Astek dan asuransi kesehatan perusahaan lebih mungkin untuk terjamin sepenuhnya apabila mencari perawatan di fasilitas swasta. Program yang diatur oleh masyarakat menjamin perawatan jalan sepenuhnya di sarana pemerintah sebanyak 43% dan di klinik swasta sebanyak 52% (Tabel 3).

Tabel 3. Persentasi Distribusi dari Pelayanan Rawat Jalan yang Terjamin Sepenuhnya oleh Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Dalam program jaminan pemeliharaan kesehatan publik, hanya 27% dari pasien rawat jalan (yang memegang kartu sehat) di RS pemerintah terjamin sepenuhnya. Demikian juga, 19% dari mereka yang terlindungi oleh program jaminan pemeliharaan kesehatan bagi non-pegawai negeri, terjamin sepenuhnya dalam biaya perawatan di RS pemerintah.

Rekomendasi:

Berdasarkan kesimpulan yang didapat, penulis membuat rekomendasi berikut:

  • Masyarakat dalam status ekonomi di kwintal I - III harus menjadi kelompok target prioritas dari program jaminan pemeliharaan kesehatan.
  • Riset yang lebih mendalam harus dilaksanakan untuk menganalisa perkiraan biaya perawatan di RS pemerintah dan pusat kesehatan, supaya dalam mengevaluasi kembali batas perlindungan maksimum perawatan pada program jaminan pemeliharaan kesehatan publik.

III. Aksesibilitas Masyarakat ke Pelayanan Kesehatan, oleh Prayoga By Prayoga (#8), Felly P. Senewe (#9) dan Shelly Cahyadi (#10)

Berlanjutnya krisis ekonomi di Indonesia meningkatkan jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan dan menurunkan pemanfaatan pelayanan kesehatan terutama pada fakir miskin. Sejak tahun 1998, jaringan pengaman sosial (JPS) bagi kesehatan telah disiapkan untuk mengatasi masalah pelayanan kesehatan terutama bagi fakir miskin.

Modul data SUSENAS 2001 dianalisa untuk menyusun laporan ini. Sampel meliputi 277,432 penduduk.

Berdasarkan data, 32% dari penduduk berada di bawah garis kemiskinan dan 57% tinggal di daerah pedesaan (Tabel 1).

Tabel 1. Persentasi Distribusi dari Penduduk Berdasarkan Status Ekonomi dan Tempat Tinggal

Dua puluh lima persen mengalami masalah kesehatan pada waktu satu bulan terakhir. Penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan memiliki tingkat morbiditas yang sedikit lebih rendah (masalah kesehatan pada waktu satu bulan terakhir) dan memiliki tingkat opname di RS lebih rendah dibandingkan mereka yang berada di atas garis kemiskinan (Tabel 2).

Tabel 2. Persentasi Distribusi dari Penduduk yang Memiliki Masalah Kesehatan dan Opname di RS Berdasarkan Status Ekonomi

Oleh sebab itu, walaupun telah diperkenalkan jaringan pengaman sosial (JPS), sejak tahun 2001, pemanfaatan pelayanan kesehatan masih rendah, terutama diantara para fakir miskin di Indonesia.
Rekomendasi:

Berdasarkan kesimpulan yang didapat, penulis membuat rekomendasi berikut:

  • Melatih dan mengirim staff paramedis untuk memberikan pelayan kesehatan di daerah-daerah terpencil, dimana tidak ada dokter medis.
  • Mengevaluasi keuntungan dan kerugian dari perkenalan "Program Dokter Keluarga" yang mendorong dokter untuk menjadi dokter keluarga guna memperbaiki akses penduduk ke pelayanan kesehatan di masyarakat.
  • Meningkatkan distribusi Kartu Sehat pada fakir miskin.



CATATAN KAKI

  1. Data SURKESNAS 2001 berisi SUSENAS 2001, Survey Kesehatan Rumah Tangga Nasional, yang terdiri dari Studi Mortalitas, Studi Morbiditas, Wanita Hamil dan Studi Kelanjutan, dan Survey Demografi Kesehatan di Indonesia. Karena proses pemasukan dan pembersihan data, hanya data SUSENAS 2001 dianalisa untuk lokakarya ini. Ukuran sampel data adalah 220.896 rumah tangga untuk Kuesioner Inti SUSENAS dan 65.280 rumah tangga untuk Modul Kuesioner Kesehatan SUSENAS, supaya data ini dapat dianalisa di berbagai tingkat yang terpisah. Lokakarya ini telah berhasil dan SURKESNAS sekarang sedang mempertimbangkan untuk melaksanakan lokakarya serupa, dengan menggunakan data SURKESNAS yang lain di waktu yang dekat.
  2. Periset, Puslitbang, Badan Litbangkes
  3. Periset, Puslitbang Ekologi Kesehatan, badan Litbangkes.
  4. Staf, Direktorat Kesehatan Keluarga, Direktorat Pembinaan Kesehatan Masyarakat.
  5. Periset, Puslitbang Ekologi Kesehatan, badan Litbangkes.
  6. Staf, Direktorat Pembinaan Pelayanan Asuransi Kesehatan, badan Litbangkes.
  7. Periset, Puslitbang Ekologi Kesehatan, badan Litbangkes.
  8. Periset, Puslitbang Ekologi Kesehatan, badan Litbangkes.
  9. Periset, Puslitbang Ekologi Kesehatan, badan Litbangkes.
  10. Staf, Direktorat Jendral Pelayanan Medis




Bina Mulia I, Floor 9. Jl. HR. Rasuna Said Kav. 10-11 Kuningan Jakarta 12950
Phone : (62-21) 520 4349 Fax : (62-21) 520 1164
© Copyright 2011 World Health Organization - Indonesia